EDUTAINMEN
Tetap semangat dalam berkarya

Kategori

 
 

Link Lain

 

Komentator

 

Pengunjung

3468
 

POLA PEMIKIRAN ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN ESENSIALISME DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMIKIRAN DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN

Pengertian Aliran Pendidikan Esensialisme

Esensialisme adalah sebuah faham didasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah pada keduniawian, serba ilmiah dan materialistik. Selain itu juga diwarnai oleh pandangan-pandangan dari paham penganut aliran idealisme dan realisme.[1]

Esensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotes terhadap skeptisisme dan sinisme dari gerakan progresivisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/ sosial. Menurut esensialisme, nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/ sosial adalah nilai-nilai kemanusian yang terbentuk secara berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun, dan didalamnya berakar gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu.[2]

Adapun ciri-ciri filsafat pendidikan esensialisme adalah sebagai berikut:

a)     Minat-minat yang kuat dan tahan lama sering tumbuh dari upaya-upaya belajar awal yang memikat atau menarik perhatian bukan karena dorongan dari dalam diri siswa.

b)     Pengawasan, pengarahan dan bimbingan orang yang belum dewasa adalah melekat dalam masa balita yang panjang atau keharusan ketergantungan yang khusus pada spesies manusia.

c)      Oleh karena kemampuan untuk mendisiplinkan diri harus menjadi tujuan pendidikan, maka menegakkan disiplin adalah suatu cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Di kalangan individu maupun bangsa, kebebasan yang sesungguhnya selalu merupakan sesuatu yang dicapai melalui perjuangan, tidak pernah merupakan pemberian.

d)     Esensialisme menawarkan sebuah teori yang kokoh kuat tentang pendidikan, sedangkan sekolah-sekolah  pesaingnya (progresivisme) memberikan sebuah teori yang lemah. Apabila terdapat sebuah pertanyaan di masa lampau tentang jenis teori pendidikan yang diperlukan sejumlah kecil masyarakat demokrasi di dunia, maka pertanyaan tersebut tidak ada lagi pada hari ini. [3]

Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia dunia akherat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian, dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia. Kurikulum sekolah bagi esensialisme merupakan semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan kegunaan. Maka dalam sejarah perkembangannya, kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola kurikulum, seperti pola idealisme, realisme dan sebagainya.[4]

Esensialisme muncul pada zaman Renaissans, dengan ciri-ciri utamanya yang berbeda dengan progressivisme. Perbedaan ini terutama dalam memberikan dasar berpijak mengenai pendidikan yang penuh fleksibilitas, dimana serba terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterikatan dengan doktrin tertentu. Bagi esensialisme, pendidikan yang berpijak pada dasar pandangan itu mudah goyah dan kurang terarah. Karena itu esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, sehingga memberikan kestabilan dan arah yang jelas.[5]

Menurut Imam Barnadib, tokoh yang berperan dalam penyebaran aliran esensialisme adalah:

a)     Desiderus Erasmus, humanis belanda yang hidup pada akhir abad 15 dan permulaan 16, yang merupakan tokoh pertama yang menolak pandangan hidup yang berpijak pada dunia lain. Erasmus berusaha agar kurikulum sekolah bersifat humanistis dan bersifat internasional, sehingga bisa mencakup lapisan menengah dan kaum aristokrat.

b)     Johan Amos Comenius yang hidup diseputar tahun 1592-1670, adalah seorang yang memilki pandangan realitas dan dogmatis. Comenius berpendapt bahwa pendidikan mempunyaai peranan membentuk anak sesuai dengan kehendak Tuhan, karena pada hakikatnya dunia adalah dinamis dan bertujuan.

c)      John Locke, tokoh dari Inggris yang hidup pada tahun 1632-1704 sebagai pemikir dunia berpendapat bahwa pendidikan hendaknya selalu dekat dengan situasi dan kondisi. Locke mempunyai sekolah kerja untuk anak-anak miskin.

d)     Johann Henrich Pestalozzi, sebagai seorang tokoh yang berpandangan naturalistis yang hidup pada tahun 1746-1827. Pestalozzi mempunyai kepercayaan bahwa sifat-sifat alam itu tercermin pada manusia sehingga pada diri manusia terdapat kemampuan-kemampuan wajarnya. Selain itu ia mempunyai keyakinan bahwa manusia juga mempunyai hubungan transendental langsung dengan Tuhan.

e)      Johan Friederich Frobel (1782-1852) sebagai tokoh yang berpandangan kosmos-sintetis dengan keyakinannya bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang merupakan bagian dari alam ini, sehingga manusia tunduk dan mengikuti ketentuan-ketentuan hukum alam. Terhadap pendidikan Frobel memandang anak sebagai makhluk berekspresi kreatif, yang dalam tingkah lakunya akan nampak adanya kualitas metafisis. Karenanya tugas pendidikan adalah memimpin anak didik ke arah kesadaran diri sendiri yang murni selaras dengan fitrah kejadiannya.

f)       Johann Friederich Herbert yang hidup pada tahun 1776-1841 sebagai salah seorang murid Immanuel Kant yang berpandangan kritis, Herbert berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebajikan dari yang Mutlak dalam arti penyesuaian dengan hukum-hukum kesusilaan dan inilah yang disebut proses pencapaian tujuan pendidikan oleh Herbert sebagai pengajaran yang mendidik.

g)      William T. Harris, tokoh dari Amerika Serikat hidup pada tahun 1835-1909. harris yang pandangannya dipengaruhi oleh Hegel berusaha menerapkan idealisme obyektif pada pendidikan umum. Tugas pendidikan baginya adalah mengizinkan terbukanya realita berdasarkan susunan yang pasti, berdasarkaan kesatuan spiritual. Kedudukan sekolah adalah sebagai lembaga yang memelihara nilai-nilai yang telah turun temurun dan menjadi penuntun penyesuaian diri kepada masyarakat. [6]

Dalam rangka mempertahankan pahamnya itu, khususnya dari persaingan dengan progesivisme, tokoh-tokoh esensialisme mendirikan suatu organisasi yang bernama “Essensialist Commite for the advancement of Education” pada tahun 1930. melalui organisasi ini pandangan-pandangan esensialisme dikembangkan dalam dunia pendidikan.[7]

 

Dasar Flosofis dan Teori Pendidikan Aliran Esensialisme

Esensialisme merupakan gerakan pendidikan ynag bertumpu pada madzhab filsafat Idealisme dan Realisme. Meskipun Idealis dan Realis berbeda pandangan filsafatnya, mereka sepaham bahwa:[8]

a)     Hakikat manusia yang mereka anut memberi makna pendidikan bahwa anak harus menggunakan kebebasannya, dan ia memerlukan disiplin orang dewasa untuk membantu dirinya sebelum dia sendiri dapat mendisiplinkan dirinya

b)     Manusia dalam memilih suatu kebenaran untuk dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya mengandung makna pendidikaan bahwa generasi muda perlu belajar untuk mengembangkan diri setingi-tingginya dan kesejahteraan sosial.

Dengan demikian peranan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan bisa berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan kenyataan sosial yang ada di masyarakat.

Esensialisme menghendaki pendidikan yang bersendikan atas nilai-nilai yang tinggi, yang hakiki kedudukannya dalam kebudayaan. Tugas pendidikan adalah sebagai perantara atau pembawaa nilai-nilai yang ada didalam gudang di luar kedalam jiwa peserta didik, sehingga ia perlu di latih agar mempunyai kemampuan absorbsi yang tinggi. [9]

a)   Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah suatu inti pengetahuan yang telah terhimpun, yang telah bertahan sepanjang waktu dan dengan demikian adalah berharga untuk diketahui oleh semua orang. Pengetahuan ini diikuti oleh keterampilan. Keterampilan-keterampilan, sikap-sikap, dan nilai-nilai yang tepat, membentuk unsur-unsur yang inti (essensial) dari sebuah pendidikan. Pendidikan  bertujuan untuk mencapai standar akademik yang tinggi, pengembanagan intelek atau kecerdasan.[10] Dengan demikian siswa di harapkan mampu menyerap ide-ide yang berasal dari luar dirinya.[11]

b)   Metode Pendidikan

Dalam aliran esensialisme, pendidikan berpusat pada guru, ada keyakinan bahwa pelajar tidak betul-betul mengetahui apa yang diinginkan, dan mereka harus dipaksa belajar. Oleh kar6humi ena tu, pedagogi yang bersifat lemah lembut haarus dijauhi, dan memusatkan diri pada penggunaan metode-metode latihan tradisonal yang tepat.

Metode utama adalah latihan mental, mislnya melalui diskusi dan pemberian tugas; dan pengusan pengetahuan, misalnyaa melalui penyampaian informasi dan membaca.[12]

c)    Kurikulum

Kurikulum berpusat pada mata pelajaran yang mencakup mata-mata pelajaran akademik yang pokok. Pada Sekolah Dasar ditekankan pada pengembangan keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan matematika. Sedangkan pada sekolah menengah menekankan pada perluasan dalam mata pelajaran matematika, ilmu kealaman, humaniora, serta bahasa dan sastra. Penguasaan terhadap mata-mata pelajaran tersebut dipandang sebagai suatu dasar utama bagi pendidikan umum yang diperlukan untuk dpat hidup sempurna. Studi yang ketat tentang disiplin –disiplin tersebut akan dapat mengembangkan kesadaran pelajar, dan pada saat yang sama membuat mereka menyadari dunia fisik yang mengitari mereka. Penguasaan fakta dan konsep-konsep pokok dan disiplin-disiplin ynag inti adalah wajib.[13]

d)   Pelajar

Siswa adalah makhluk rasional dalam kekuasan fakta dan ketrampilan-ketrampilan pokok yang siap siaga melakukan latihan-latihan intelektif atau berfikir.[14]

e)   Pengajar

Guru mempunyai pernan yang kuat dalam mempengrauhi dan mengawasi kegiatan-kegiatan di kelas. Guru adalah pemilik kewenangan di bidang keahliannya.[15] Selain itu, guru juga sebagai teladan atau contoh dalam pengawalan nilia-nilai dan penguasaan-penguasaan atau gagasan-gagaasan.[16]

 

 

 

 

 

Implikasi Aliran Esensialisme Terhadap Pengembangan Kurikulum

Kurikulum  kaum  esensialis menekankan pengajaran fakta-fakta, dimana materi-materinya merupakan dasar yang esensial bagi  ‘general education’ yang diperlukan dalam hidup. Kurikulum juga berpusat pada mata pelajaran (subject matter centered).[17]

Menurut  pandangan kaum esensialis, belajar adalah  sebuah usaha keras yang menuntut kedisiplinan, dan guru adalah lokus (titik) otoritas ruang kelas.  Sedangkan anak didik perlu mendisiplinkan diri untuk memusatkan perhatian pada tugas yang ada di depan mata, dan di sisi lain, guru adalah orang yang mengetahui apa yang dibutuhkan peserta didiknya untuk diketahui, dan sudah sedemikian kenal dengan tataran logis materi ajar dan cara penyampaiannya. Guru merupakan model contoh yang sangat baik untuk ditiru dan digugu.  Metode yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran menurut aliran ini adalah metode pemecahan masalah (problem solving).[18]

Dengan demikian implikasi aliran esensialisme terhadap pemikiran dan pola pengembangan kurikulum adalah:

1.   Komponen Tujuan

Jika mengambil titik pandang dari aliran esensialisme, maka tujuan pembelajaran diarahkan pada upaya mempersiapkan anak didik untuk hidup atau menjalani kehidupan dalam lingkungan sosialnya. Anak didik harus memiliki rasa solidaritas sosial dan ikut  berperan serta mewujudkan kesejahteraan umum. Pewarisan nilai-nilai luhur ajaran agama oleh sosok guru juga menjadi titik tekan tujuan pembelajaran.

Dari tujuan pembelajaran di atas, aspek sosial tetap menjadi titik tekan. Tentu saja, tercapainya kompetensi sosial, yakni kecakapan komunikasi dengan empati, sikap penuh pengertian dan seni komunikasi dua arah serta kecakapan bekerja sama dalam masyarakat, menjadi harapan. Oleh karena itu, prinsip belajar learning to live together harus mampu diterapkan secara baik dalam proses pembelajaran.

 

 

2.   Komponen Materi/ Isi.

Kurikulum berisi hal-hal yang bersifat mendasar yang ingin ditanamkan ke dalam diri peserta didik. Terutama nilai-nilai. Nilai-nilai penting (esensial) yang ingin ditanamkan kepada peserta didik selain nilai-nilai keimanan (doktrin-doktrin agama dalam kitab suci), adalah nilai kemanusiaan, dan nilai-nilai  sosial. Nilai-nilai mendasar ini, tentunya akan berguna bagi peserta didik agar kelak dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi.

3.   Komponen Strategi

Penanaman nilai, tentunya membutuhkan proses yang tidak singkat atau tidak instan. Salah  satu cara efektifnya adalah dengan memberi contoh atau keteladanan dari  sosok seorang  guru bagi anak didiknya.  Maka, metode yang dapat digunakan adalah pemberian contoh, keteladanan, pembiasaan, dan pendekatan persuasif atau mengajak siswa dengan cara yang halus dengan memberikan argumentasi dan prospek baik yang bisa meyakinkan anak didik.  Tapi bukan berarti harus meninggalkan metode ceramah. Maka di sini tampak bahwa sosok guru merupakan fokus (titik) otoritas ruang kelas. Selain harus mampu meracik strategi pembelajaran yang tepat dan menarik,  Guru juga harus punya kapasitas keteladanan yang lebih dan  membekali dirinya dengan kemampuan intelektual yang tinggi. Dalam praktik skenario pembelajaran, inisiatif-inisiatif guru berperan besar. 

4.   Komponen Evaluasi

Dalam segi  evaluasi pembelajaran,  ditekankan pada evaluasi acuan etik. Acuan ini  dipilih karena berkenaan dengan  upaya mengukur internalisasi dari nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan pada siswa dan sejauh mana implementasi dari nilai-nilai keimanan itu dalam ranah sosial. Asumsi acuan  ini berusaha untuk mengembangkan fitrah (aktualisasi) yang melekat pada diri peserta didik. Evaluasi acuan  etik  ini dalam pandangan penulis, relevan dengan tujuan pembelajaran, yakni menjadikan peserta didik sebagai manusia “baik”, bermoral, beriman dan bertaqwa.

 

 

 

Penutup

Berdasarkan uraian makalah diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Pertama, Esensialisme adalah sebuah faham didasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah pada keduniawian, serba ilmiah dan materialistik. Esensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotes terhadap skeptisisme dan sinisme dari gerakan progresivisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/ sosial.

Kedua, Esensialisme menghendaki pendidikan yang bersendikan atas nilai-nilai yang tinggi, yang hakiki kedudukannya dalam kebudayaan. Tujuan pendidikan adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah suatu inti pengetahuan yang telah terhimpun, yang telah bertahan sepanjang waktu dan dengan demikian adalah berharga untuk diketahui oleh semua orang. Pendidikan berpusat pada guru, ada keyakinan bahwa pelajar tidak betul-betul mengetahui apa yang diinginkan, dan mereka harus dipaksa belajar.

Ketiga, Implikasi aliran esensialisme terhadap pengembangan kurikulum pendidikan adalah: (a) Tujuan pembelajaran diarahkan pada upaya mempersiapkan anak didik untuk hidup atau menjalani kehidupan dalam lingkungan sosialnya; (b) Kurikulum berisi hal-hal yang bersifat mendasar yang ingin ditanamkan ke dalam diri peserta didik terutama nilai-nilai yang mereka anggap penting (esensial); (c) Strategi atau metode yang digunakan adalah pemberian contoh, keteladanan, pembiasaan, dan  pendekatan persuasif; (d) Dalam segi  evaluasi pembelajaran,  ditekankan pada evaluasi acuan etik sebagai  upaya mengukur internalisasi dari nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan pada siswa dan sejauh mana implementasi dari nilai-nilai keimanan itu dalam ranah sosial.

 

 


DAFTAR RUJUKAN

 

 

Arifin, Muzayin. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2008

Barnadib, Imam. Filsafat Pendidikan, Yogyakarta: Yayasan Penerbit FIP IKIP Yogyakarta, 1982

Mudyahardjo, Redja. Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006

Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004

Noor Syam, Muhammad. Pengantar Filsafat Pendidikan, Malang: FIP IKIP Malang, 1978

Sadulloh, Uyoh. Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung: Alfabeta, 2003

Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1994 Cet. 4



[1] Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994),  25

[2] Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), 160

[3] Ibid

[4] Muhammad Noor Syam, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Malang: FIP IKIP Malang, 1978), 153

[5] Joe Park, Selected Reading in the Philosophy of Education, dalam Muzayin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 25

[6] Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: Yayasan Penerbit FIP IKIP, 1982), 38 – 40

[7] Muzayin Arifin,  Filsafat, 27

[8] Redja Mudyahardjo, Pengantar, 162

[9] Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), 40 – 41

[10] Redja Mudyahardjo, Pengantar,  163

[11] Muhaimin, Wacana, 42

[12] Redja Mudyahardjo, Pengantar,  163

[13] Redja Mudyahardjo, Pengantar, 163-164

[14] Ibid

[15] Muhaimin,  Wacana, 42

[16] Redja Mudyahardjo, Pengantar, 164

[17] Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2003), 162

[18] Ibid, 164

Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar

    [Emoticon]
 

Artikel Popular

 

Komentar Terbaru

 
 
Home | Profil | Pengumuman

Copyright © 2011 Unair | Designed by Free CSS Templates